
Sejarah dan Hukum Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia
Minggu, 7 September 2025
370 kali dibaca
Setiap Rabiul Awal tiba, semerbak wangi shalawat dan semarak perayaan memenuhi udara di seluruh penjuru Indonesia, dari surau kecil di desa hingga masjid agung di kota. Gema puji-pujian kepada Sang Teladan umat, Nabi Muhammad SAW, membahana sebagai tanda cinta.
Menggali Akar Sejarah Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi secara meriah tidak serta-merta ada sejak zaman Rasulullah SAW. Catatan sejarah menunjukkan bahwa perayaan ini mulai diselenggarakan secara besar dan terorganisir pada masa-masa setelah generasi sahabat. Salah satu pelopor pertama kegiatan maulid yang tercatat dalam sejarah adalah al-Mudzhaffar Abu Saโid, seorang raja yang saleh dan dermawan di wilayah Irbil, Baghdad. Pada masanya, masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul bersama, membaca Al-Qurโan, mengkaji sejarah ringkas kehidupan dan perjuangan Rasulullah, serta melantunkan shalawat dan syair-syair pujian.
Inti dari perayaan ini sejak awal adalah untuk menumbuhkan cinta kepada Rasulullah SAW. Ahli tafsir terkemuka, Prof. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa perayaan Maulid yang meriah baru dilaksanakan pada era Dinasti Abbasiyah. Tujuannya sangat mulia, yaitu untuk memperkenalkan sosok agung Nabi Muhammad SAW kepada setiap generasi. Logikanya sederhana: kenal adalah pintu untuk mencintai. Dengan mengenal perjuangan, akhlak, dan kasih sayang Nabi, umat Islam diharapkan dapat menumbuhkan benih cinta yang mendalam di dalam hati mereka.
Maulid di Jantung Nusantara: Ekspresi Cinta yang Beragam
Kecintaan umat Islam di Indonesia pada Nabi Muhammad SAW terwujud dalam tradisi yang kaya warna dan sarat makna. Kemajemukan budaya bangsa ini melahirkan berbagai perayaan Maulid yang unik, hasil perpaduan syiar Islam dengan adat istiadat setempat. Masyarakat Madura memiliki tradisi Muludhen dengan pembacaan Barzanji yang khas. Di Minang, ada tradisi Bungo Lado sebagai simbol rasa syukur. Warga Kudus menggelar Kirab Ampyang yang meriah, sementara Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta melestarikan tradisi Grebeg Maulud yang megah. Semua ini adalah ekspresi kegembiraan dan cinta atas anugerah terutusnya manusia paling sempurna di muka bumi.
Membedah Hukum Maulid Nabi: Antara Sunnah dan Tuduhan Bid'ah
Diskursus mengenai hukum perayaan Maulid Nabi seringkali menjadi perdebatan hangat di kalangan umat Islam. Sebagian kalangan mempertanyakan legalitasnya karena tradisi ini tidak pernah dilakukan secara spesifik oleh Nabi Muhammad SAW maupun para sahabatnya. Namun, mayoritas ulama memberikan pandangan yang lebih luas dengan dalil dan argumentasi yang kokoh.
Dalil-Dalil yang Memperkuat Perayaan Maulid
Al-Qur'an sendiri mengisyaratkan anjuran untuk bergembira atas rahmat Allah. Dalam Surat Yunus ayat 58, Allah SWT berfirman:
ููููุจูููุถูููุงููููููููุจูุฑูุญูู ูุชูููููุจูุฐูููููููููููููุฑูุญููุงููููุฎูููุฑูู ูู ููุงููุฌูู ูุนูููู
Artinya: โKatakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira.โ (QS. Yunus: 58).
Para ulama tafsir, seperti yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, menafsirkan bahwa rahmat dalam ayat ini adalah Nabi Muhammad SAW. Hal ini selaras dengan firman Allah di Surat Al-Anbiya' ayat 107 yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Jadi, bergembira atas kehadiran Sang Rahmat adalah sebuah anjuran syar'i.
Rasulullah SAW sendiri juga memperingati hari kelahirannya dengan cara yang istimewa. Beliau berpuasa setiap hari Senin. Ketika ditanya oleh seorang sahabat mengenai alasannya, beliau menjawab, "Aku berpuasa karena di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu pula lah aku mendapatkan wahyu pertama kali." Ini adalah bukti bahwa hari kelahiran adalah hari yang patut disyukuri, dan Nabi sendiri melakukannya melalui ibadah puasa.
Kegembiraan atas kelahiran Nabi bahkan diakui membawa manfaat yang luar biasa. Dalam kitab Fathul Bari karya Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, diceritakan bahwa Abu Lahab, seorang paman Nabi yang kafir, mendapatkan keringanan siksa di neraka setiap hari Senin. Keringanan ini diberikan karena ia pernah begitu gembira dan membebaskan budaknya saat mendengar kabar kelahiran keponakannya, Muhammad. Riwayat ini menunjukkan betapa besarnya nilai sebuah kegembiraan atas lahirnya Rasulullah.
Menjawab Isu Bid'ah: Memahami Konteks dengan Benar
Sebagian kalangan menganggap Maulid sebagai bid'ah atau perkara baru yang sesat, berlandaskan hadits, "Setiap hal yang baru adalah bidah dan setiap bidah adalah sesat."
Pemahaman hadits tentang bid'ah haruslah komprehensif dan tidak parsial. Ulama menjelaskan bahwa hadits tersebut perlu digabungkan dengan hadits lain yang berbunyi, "Siapa saja yang membuat sesuatu yang baru dalam masalah kami ini (urusan agama), yang tidak bersumber darinya, maka dia ditolak." Para ulama menyimpulkan bahwa bid'ah yang tercela (dhalalah) adalah inovasi dalam urusan akidah atau ibadah inti yang tidak memiliki dasar sama sekali.
Para ulama besar mengkategorikan Maulid sebagai bid'ah hasanah atau inovasi yang baik. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan bahwa meskipun asalnya adalah bid'ah, peringatan maulid mengandung banyak kebaikan. Selama dalam pelaksanaannya diisi dengan hal-hal yang baik seperti membaca Al-Qur'an, bershalawat, bersedekah, dan mengkaji sirah Nabi, serta menjauhi kemungkaran, maka ia menjadi sebuah inovasi yang terpuji. Perayaan Maulid Nabi hanyalah format atau wadah, sementara isinya adalah amalan-amalan yang jelas dianjurkan dalam syariat.
Maulid Nabi: Lebih dari Sekadar Peringatan, Sebuah Peneguhan Iman
Peringatan Maulid Nabi adalah momentum strategis untuk kembali menyambungkan hati kita dengan Sang Teladan. Ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah madrasah spiritual untuk meneladani akhlak, memperkuat iman, dan menyuburkan kembali cinta kita kepada Rasulullah SAW. Dengan mengenang kembali perjuangan dan kasih sayangnya, kita terinspirasi untuk menjadi pribadi muslim yang lebih baik.
Merayakan Maulid menjadi cara kita yang efektif untuk mengenalkan sosok Nabi Muhammad SAW kepada generasi penerus. Dalam suasana yang gembira dan penuh khidmat, anak-anak dan remaja dapat menyerap kisah-kisah keteladanan beliau. Pada akhirnya, peringatan Maulid adalah penegasan bahwa risalah dan cinta Nabi Muhammad SAW akan terus hidup, diwariskan dari generasi ke generasi, menerangi jalan umat hingga akhir zaman.