
Mengenal Hak Orang Miskin dalam Harta Kita
Jumat, 3 April 2026
381 kali dibaca
[KHUTBAH PERTAMA]
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْأَمْوَالَ فِتْنَةً وَامْتِحَانًا لِلْعِبَادِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Takwa yang melahirkan kepekaan sosial, di mana hati kita merasa sakit saat melihat saudara kita kelaparan, dan tangan kita tergerak saat melihat mereka kekurangan.
Sering kali kita terjebak dalam pemikiran bahwa apa yang kita miliki adalah mutlak milik kita. Kita merasa telah bekerja keras membanting tulang, memeras keringat, hingga layak menikmati setiap tetes hasilnya sendiri. Namun, Al-Qur'an mengingatkan dengan tegas bahwa di dalam harta yang kita simpan, terdapat bagian yang alamatnya bukan untuk kita, melainkan untuk fakir miskin.
Allah SWT berfirman: "Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta." (QS. Az-Zariyat: 19).
Ayat ini menggunakan kata "Hak", yang dalam bahasa hukum berarti kepemilikan. Artinya, jika kita menahan zakat atau kikir dalam bersedekah, kita sedang mencuri hak milik orang-orang lemah. Kita sedang "memakan" apa yang seharusnya menjadi penyambung hidup mereka. Inilah yang seringkali menjadi penghalang turunnya keberkahan dalam rumah tangga kita.
Jamaah yang berbahagia,
Mari kita teladani kehidupan Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah manusia yang paling memahami bahwa harta hanyalah titipan sementara. Suatu hari, Rasulullah SAW menyembelih seekor kambing, lalu memerintahkan Aisyah RA untuk membagi-bagikannya kepada fakir miskin.
Setelah selesai, Rasulullah SAW bertanya kepada Aisyah: "Apa yang tersisa dari kambing itu?"
Aisyah menjawab: "Tidak ada yang tersisa kecuali bagian bahunya saja, ya Rasulullah."
Mendengar itu, Rasulullah SAW memberikan sebuah pelajaran tauhid yang luar biasa. Beliau bersabda: "Semuanya masih tersisa (menjadi pahala di sisi Allah) kecuali bagian bahunya saja (yang akan habis kita makan)." (HR. Tirmidzi).
Kisah ini menyentil logika kita. Kita sering menganggap harta yang kita sedekahkan itu "hilang" atau "berkurang". Padahal, dalam timbangan Allah, justru harta yang kita berikan itulah yang kekal menjadi milik kita di akhirat. Sedangkan harta yang kita pakai dan kita makan, dialah yang akan habis menjadi kotoran dan lenyap tanpa bekas.
Rasulullah SAW juga tidak pernah membiarkan ada harta yang "menginap" di rumah beliau jika masih ada orang miskin yang belum makan. Beliau adalah pribadi yang tidak pernah takut miskin karena memberi. Ketakutan akan kemiskinan adalah bisikan setan, sementara janji kecukupan adalah janji dari Allah SWT.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Mengenal hak orang miskin berarti kita sedang belajar bersyukur. Dengan memberi, kita mengakui bahwa rezeki itu datangnya dari Allah, bukan semata karena kecerdasan kita. Saat kita menunaikan zakat dan sedekah, kita sedang membersihkan diri dari penyakit kikir dan wahn (cinta dunia berlebihan).
Ingatlah pesan Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang meringankan beban seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan bebannya di hari kiamat." Mari kita buka mata dan hati kita. Lihatlah sekeliling, mungkin ada tetangga yang kekurangan, mungkin ada anak yatim yang kesulitan sekolah. Itulah ladang amal dan alamat dari "hak" yang selama ini tersimpan di saku-saku kita.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ.
[KHUTBAH KEDUA]
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ... فَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sebagai penutup khutbah ini, mari kita berkomitmen untuk menjadi tangan di atas. Jangan biarkan harta yang kita kumpulkan dengan susah payah justru menjadi api yang membakar kita di akhirat karena kita lalai menunaikan hak orang miskin di dalamnya.
Satu butir nasi yang Anda berikan, satu rupiah yang Anda zakatkan, mungkin bagi Anda kecil, tapi bagi mereka adalah jawaban atas doa-doa di tengah malam. Jadikanlah harta Anda sebagai jembatan menuju surga, bukan penghalang yang memberatkan hisab.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ... يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, lembutkanlah hati kami untuk selalu mencintai fakir miskin. Jadikanlah kami hamba-Mu yang amanah dalam mengelola harta titipan-Mu. Sucikanlah rezeki kami, berkahilah keluarga kami, dan kumpulkanlah kami kelak bersama Baginda Rasulullah SAW di dalam surga-Mu yang penuh kenikmatan.