
Jika Adab Menghiasi Ilmu
Senin, 10 Agustus 2026
150 kali dibaca
Ilmu pengetahuan tanpa diiringi oleh adab dan akhlak yang mulia hanya akan melahirkan kesombongan serta kehampaan jiwa. Banyak orang mengejar tingginya derajat akademis atau wawasan keagamaan, tetapi lupa menata sikap santun dalam berinteraksi. Adab merupakan perhiasan utama yang menjadikan ilmu berdaya guna, mendatangkan keberkahan, serta memancarkan manfaat nyata bagi sesama.
Pribadi yang memadukan kedalaman wawasan dengan kelembutan akhlak akan senantiasa dihormati dan dicintai oleh lingkungan sekitarnya. Ketika adab menghiasi ilmu, perkataan seseorang akan menyejukkan hati dan tindakannya menjadi teladan hidup. Oleh sebab itu, menuntut adab harus selalu berjalan berdampingan atau bahkan mendahului proses menuntut ilmu itu sendiri.
Adab sebagai Fondasi Keberkahan Ilmu
Para ulama terdahulu senantiasa menempatkan pelajari adab di atas pencarian hafalan maupun teori keilmuan. Ilmu yang didapatkan dengan adab yang benar akan menancap kuat di dalam dada serta membawa petunjuk hidup. Sebaliknya, ilmu tanpa adab riskan disalahgunakan untuk mendebat, menjatuhkan orang lain, atau memuaskan hawa nafsu pribadi.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ
Artinya: "Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Janji pengangkatan derajat bagi pemilik ilmu dalam ayat tersebut berbanding lurus dengan keimanan dan keluhuran sikapnya. Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah (2002), kemuliaan derajat tersebut hanya diberikan kepada pemilik ilmu yang rendah hati dan menebar kemaslahatan. Penjelasan ini membuktikan bahwa keberkahan ilmu terpancar dari sejauh mana adab diterapkan.
Kerendahan Hati dan Bahaya Kesombongan Ilmu
Tanda utama dari ilmu yang bermanfaat adalah makin bertambahnya rasa tawaduk atau kerendahan hati pada diri seseorang. Ibarat padi yang makin berisi akan makin merunduk, seorang ilmuwan atau penuntut ilmu sejati tidak akan merasa lebih unggul dari orang lain. Kesombongan justru menjadi penghalang utama masuknya taufik dan hidayah ke dalam hati.
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya: "Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu)." (QS. Fatir: 28)
Ayat ini mempertegas bahwa puncak tertinggi dari ilmu adalah rasa takut dan hormat yang mendalam kepada Allah Swt. Dr. Umar Al-Asyqar dalam bukunya Pengantar Studi Aqidah Islam (2015) menjelaskan bahwa rasa takut tersebut mewujud dalam bentuk kesantunan akhlak dan kehati-hatian dalam bertindak. Adab menjaga seorang berilmu dari godaan takabur dan merasa paling benar.
Adab Berinteraksi dengan Guru dan Sesama
Penghormatan yang tulus kepada sosok pendidik menjadi kunci pembuka pemahaman dan keharmonisan dalam menuntut ilmu. Seorang murid tidak akan mampu menyerap esensi kebaikan jika menyimpan rasa meremehkan atau tidak sopan terhadap gurunya. Adab bertutur kata dan bersikap santun kepada sesama penuntut ilmu juga menciptakan suasana belajar yang penuh keberkahan.
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
Artinya: "Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang yang berilmu di antara kami." (HR. Ahmad no. 22755)
Pesan dari hadis di atas menggarisbawahi pentingnya menjaga tata krama dalam tatanan sosial masyarakat dan dunia pendidikan. Riset psikologi pendidikan oleh Dr. Jalaluddin Rakhmat dalam Psikologi Komunikasi (2018) menunjukkan bahwa etika interaksi yang positif meningkatkan efektivitas penyampaian pesan dan penerimaan ilmu. Adab berinteraksi memperkuat ikatan spiritual antara pengajar dan pembelajar.
Mewujudkan Ilmu dalam Aksi Nyata yang Santun
Ujian sejati dari tingginya ilmu seseorang terletak pada pengamalannya di dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten. Menerapkan ilmu dengan tutur kata yang lembut dan kepedulian sosial merupakan manifestasi adab yang paling konkret. Masyarakat tidak hanya menilai wawasan seseorang dari gelar yang disandang, melainkan dari manfaat dan kebaikan karakternya.
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ
Artinya: "Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).'" (QS. Al-Isra': 53)
Anjuran Al-Qur'an untuk selalu memilih perkataan terbaik ini merupakan prinsip dasar dari adab berkomunikasi dalam Islam. Prof. Dr. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (1982) menekankan bahwa keluhuran budi pekerti adalah buah manis dari ilmu yang meresap ke dalam jiwa. Mari kita jadikan adab sebagai penghias utama ilmu agar hidup kita senantiasa dipenuhi ketenangan dan keberkahan.