Suatu saat dalam sebuah perjalan naik bus, kami Bersama rombongan keluarga yang lengkap, yakni bapak, ibu, tiga anak beserta kakek-neneknya. Dari terminal, mereka naik bersama-sama dalam beberapa deret kursi. Pada awal naik bus, sudah kelihatan bahwa keluarga ini akan berkunjung ke salah satu kerabatnyayang jauh karena mereka berbicara keras saling bersahutan antar mereka dan membicarakan keluarga yang mau dituju.

Dari sini semakin kelihatan dari pola dan karakter cara bicara keras yang mengganggu penumpang lain. Ditambah anak mereka juga tak kalah hebohnya terkadang berperilaku menyanyi, berteriak, ataupun menjerit tiba-tiba meskipun saya menyadari bahwa mereka masih berusia anak-anak sekitar usia PlayGroup dan taman kanak-kanak.

Di tengah perjalanan, kami merasakan para penumpang mulai sedikit terganggu dengan gerombolan penumpang ini. Kami perhatikan di sebelah deret kursi yang dekat maupun yang jauh dari mereka. Seolah penumpang lain yang mau memanfaatkan perjalanan ini untuk beristirahat karena penatnya bekerja seharian terganggu dengan jeritan dan teriakan Anak secara tiba-tiba yang seolah tak terkendali oleh orang tua mereka.

Padahal, rombongan penumpang bus rata-rata adalah para pelanggan yang biasa naik transportasi bus ini karena mereka bekerja diSurabaya. Terkadang dibuat terkaget-kaget ditengah tidurnya sampai-sampai mereka bergumam dan geleng-geleng kepala terhadap perilaku anak-anak keluarga ini seolah berada dalam kendaraan sendiri. Tanpa ada upaya mengelola dengan baik dan meminta maaf dari penumpang di sekitarnya.

Peristiwa yang demikian terkadang juga bisa muncul di tempat-tempat lain seperti Ketika kita berada dalam sebuah rumah makan atau fasilitas-fasilitas umum lainnya. Bahkan, pernah dalam sebuah rumah makan ada keluarga yang membawa rombongan keluarganya, sang anak berperilaku heboh mulai dari ingar-bingar bersuara sampai ada yang memuntahkan makanan. Sementara kanan kiri mereka juga banyak pelanggan yang sedang menikmati santap makan. Si keluarga acuh tanpa menghiraukan dan meminta maaf kepada orang di sekitarnya. Seolah ada yang hilang di Sebagian keluarga masyarakat kita betapa pentingnya menanamkan perilaku unggah-ungguh dan sopan santun ketika berada di tempat umum tentang berakhlak mulia (mahmudah).

Kesempatan menanamkan budi pekerti tidak hanya sebatas dilakukan oleh para guru di sekolah saja tanpa peran serta orang tua mendampingi sang anak dalam keseharian ketika suda berada di rumah. Pendidikan pembiasaan (at-tarbiyatul bil-adah) menjadi kewajiban mutlak para orang tua karena anak-anak adalah generasi masa depan negeri ini.

Salah satu contoh ketika sedang naik bus itu bisa ditanamkan pembiasan: mulai berdoa Ketika naik kendaraan, mulai dari kaki kiri apa kanan ketika masuk dan naik, adab berada di dalamnya ketika sedang duduk, hingga turun sampai tujuan. Semua itu butuh penekanan, nasihat dan keteladanan dari orang tua.

Sebagaimana diceritakan Ibnu Abbas saat bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan menaiki seekor baghal yang dihadiahkan kepada beliau oleh Kisra. Ibnu Abbas dibonceng di belakangnya. Setelah berjalan beberapa lama, Rasulullah menoleh ke belakang dan bersabda, ”Wahai anak muda!” ”Saya, ya Rasulullah,” jawabnya. ”Jagalah Allah, kamu pasti dijaga-Nya!” (HR Tirmidzi)

Begitu juga ketika di rumah makan, anak butuh pendampingan. Anak-anak terkadang sering melakukan perbuatan yang kurang sopan, karena terdorong oleh nafsu makannya yang tinggi dan tergesa-gesa, saat itulah orang tua bisa meluruskan kesalahan yang diperbuat sekaligus memberikan nasihat bagaimana seharusnya makan yang benar mulai dari awal hingga akhir.

Rasulullah SAW juga senang menemani anak-anak yang sedang makan. Semua perilaku anak diperhatikan. Beberepa kesalahan langsung diluruskan dan dibenarkan oleh beliau dengan santun dan mengesankan.

Umar bin Salamah RA berkata, ”Ketika masih kanak-kakak, aku pernah dipangku Rasulullah SAW, tanganku melayang ke sebuah nampan berisi makanan. Kemudian Rasulullah berkata kepadaku, ”Nak, bacalah basmalah, lalu makanlah dengan tangan kanan dan ambillah makanan yang terdekat denganmu! Maka seperti itulah cara makanku seterusnya” (HR Bukhori).

Dalam kesempatan yang lain Rasulullah bersabda, “Mendekatlah Nak! Bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kanan dan ambillah yang terdekat” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Dalam sebuah kisah, sepulang dari mengebumikan jenazah, Rasulullah ditemui oleh seorang lelaki yang menyampaikan undangan makan dari seorang perempuan. Ketika orang-orang sudah duduk, makanan segera dihidangkan. Rasulullah SAW mulai mengambil makanan dan segera diikuti oleh orang-orang. Anak-anak kecil duduk bersama aya-ayah mereka. Tiba-tiba Rasulullah berhenti mengambil makanan dan orang-orang pun memperhatikan beliau yang diam sambil mengunyah makanan. Ketika itu ada seorang ayah memukul tangan anaknya hingga keringatnya memercik. ”Aku melihat ada tangan yang mengambil daging kambing tanpa seizin pemiliknya” (HR Daru-Qutni).

Betapa indah dan mulianya bila keluarga kita mampu meneladani junjungan kita, Baginda Rasulullah Muhammad SAW, dalam amalaiyah kesehariannya.

Allahumma shalli ‘ala Muhaammad.


Kampanye Terkait

Kado Istimewa untuk Pahlawan Sepanjang Masa

Muliakan Gurumu mulai hari ini, dengan kado Istimewa

Rp 63,000 / Rp 50,000,000
30 hr tersisa

0%

Donasi