Di era kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, orang bisa dengan mudah mengakses informasi kapan saja dan di mana saja. Berita tentang suatu peristiwa yang dahulu menjadi komoditas media konvensional seperti surat kabar, majalah, radio, dan TV kini bisa dikonsumsi setiap detik lewat media sosial.

Perkembangan arus media sosial memang seakan tak terbendung. Tiap individu bisa memperoleh informasi apa pun yang diinginkan melalui media sosial dan internet. Selain dianggap efektif karena kecepatan aksesnya, biaya akses internet pun semakin terjangkau publik apabila dibandingnya misalnya dengan berlangganan koran atau majalah. Apalagi, di tengah tren 4G yang menggeser teknologi 3G, banyak operator yang berlomba-lomba dalam menawarkan tarif internet. Belum lagi fasilitas wifi yang tersedia di ruang publik seperti taman, bandara, stasiun, perpustakaan daerah, sekolah, perkantoran, kampus perguruan tinggi, dan sebagainya yang kian memanjakan masyarakat dalam mengakses internet.

Akan tetapi, kemudahan-kemudahan dalam mengakses informasi tersebut bukannya tidak menyisakan persoalan. Contohnya, segala hiruk-pikuk kehidupan dan dinamika yang terjadi di masyarakat saat ini nyaris bisa diketahui dengan cepat melalui berita-berita di media sosial seperti Facebook, Twitter, blog, dan laman berita daring (online) lainnya. Problemnya, dengan membanjirnya informasi lewat media sosial tersebut, tidak ada filter untuk menyaring ”kebenaran”nya.

Hal ini patut menjadi perhatian khusus karena tidak jarang di antara informasi yang berkembang di masyarakat itu patut diduga ada yang bertujuan memecah belah persatuan rakyat. Contoh yang paling gres adalah berseliwerannya isu mengenai perpanjangan kontrak kerja PTFreeport di Indonesia yang melahirkan skandal rekaman percakapan yang melibatkan pejabat negara. Banyak kabar yang berkembang di ranah publik terkait isu ini dan menjadi bola liar. Namun, apakah semua kabar tersebut bisa dipercaya kebenaran dan akurat? Belum tentu.

Budaya Tabayyun

Di sinilah Islam mengajarkan akhlak mulia melalui sikap bertabayyun. Secara bahasa, tabayyun berarti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa (2008), istilah Arab tersebut telah dibakukan dalam kata ”tabayun” yang mempunyai arti pemahaman atau penjelasan.

Dari sisi istilah, tabayyun ialah meneliti atau menyeleksi berita, tidak tergesa-gesa memutuskan masalah dalam hal hukum, kebijakan, dan sebagainya hingga permasalahannya benar-benar jelas. Tujuan melakukan tabayyun adalah menghindarkan dari salah paham atau permusuhan, bahkan pertumpahan darah, antar sesama. Karena itu, tabayyun merupakan aspek penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Terkait tabbayun, Allah SWT berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 6, ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kami tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan penyesalan atas perbuatanmu itu.”

Rasulullah SAW sendiri telah mengingatkan secara tegas, ”Jauhilah dirimu dari persangkaan. Sesungguhnya persangkaan itu sedusta-dustanya perkataan” (HR Al Bukhari: 5144).

Dalam korelasinya dengan kondisi saat ini, tabayyun semestinya ditanamkan benar-benar sejak dini hingga menjadi sebuah budaya. Sebab, dengan bertabayyun, kita bisa berpikir secara rasional, objektif, sistematis, serta berpatokan pada asas kebermanfaatan umat. Melalui tabayyun pula, kita dapat menguji suatu kebenaran dari informas-informasi yang berkembang di tengah masyarakat. Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi fitnah lantaran menelan mentah-mentah suatu kabar tanpa menelaah keakuratan dan kebenarannya.

Bertabayyun merupakan sikap yang sangat penting dan tidak bisa dipandang remeh. Pasalnya, tidak semua kabar atau informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Apalagi, kita hidup di zaman yang banyak terjadi fitnah, hasud, ketamakan, dan kebohongan atas nama ulama melalui internet dan media sosial. Hal ini tentu saja tidak hanya merusak kehormatan manusia, tetapi juga merusak ajaran Islam dan pemeluknya.

Barangkali perlu kita cermati dan dalami kembali sabda Rasulullah SAW berikut ini, ”Pelan-pelan itu dari Allah, sedangkan terburu-buru itu dari setan” (Musnad Abu Ya’la: 7/247, dishahihkan oleh Al Abani: 4/404). Imam Hasan Al Basri juga pernah mengingatkan bahwa orang mukmin itu pelan-pelan sehingga jelas perkaranya.

Dari sini kita dapat mengambil hikmah bahwa budaya tabayyun perlu ditanamkan betul-betul dalam perikehidupan umat Islam sehari-hari. Dari kisah-kisah sejarah di zaman Nabi Muhammad SAW, banyak hal yang dapat dipetik dari tabayyun. Apabila kita meninggalkannya, bisa timbul kecemasan dan penyesalan dan bukan tidak mungkin lahir kesalahpahaman yang mengakibatkan pertumpahan darah.

Beberapa ayat Alquran tegas menggambarkan perlunya dan pentingnya bertabayyun, di antaranya Al Hujurat ayat 6, An Nisa ayat 94, dan An Nur ayat 12. Dengan bertabayyun, diharapkan kaum muslim senantiasa meningkatkan ketakwaan. Sebab, salah satu keutamaan takwa adalah Allah akan memberikan furqan kepadanya, yaitu kemampuan membedakan yang haq dari yang batil, yang benar dari yang bohong (Al Anfal: 29). Dengan bertabayyun pula, kita membangun karakter bijak dalam mendalami suatu masalah sehingga mendatangkan manfaat bagi sesama. Wallahu a’lam bishshawab. (Eko Prasetyo)


Kampanye Terkait

Kado Istimewa untuk Pahlawan Sepanjang Masa

Muliakan Gurumu mulai hari ini, dengan kado Istimewa

Rp 63,000 / Rp 50,000,000
30 hr tersisa

0%

Donasi