Marhaban yaa Ramadhan. Alhamdulillah, bulan Ramadhan hadir dan menyapa kembali. Sebagai keluarga muslim, tentu Ramadhan adalah salah satu di antara bulan yang ditunggu kehadirannya sebagai ajang untuk semakin meningkatkan kualitas dan prestasi ibadah dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.  

Bagi keluarga yang memiliki putra-putri balita (bawah lima tahun) atau di bawah usia tujuh tahun, puasa Ramadhan memiliki makna dan kesan tersendiri. Untuk putra-putri yang sudah duduk di bangku PAUD atau kelompok bermain dan taman kanak-kanak, para guru agama di sekolah tentu sudah banyak memberikan pembelajaran pembiasaan seputar ibadah Ramadhan. Misalnya, bagaimana mempersiapkan puasa, shalat Tarawih, iktikaf, buka puasa, tadarus Alquran hingga ibadah shalat Idul Fitri dan silaturrahim dengan keluarga besarnya.

Pendidikan pembiasaan (at-tarbiyyatu biladah) bagi anak di bawah tujuh tahun dampaknya sangat besar bagi perkembangan anak di masa berikutnya. Sebagai contoh, pembiasaan anak berpuasa sejak usia dini akan memberikan makna betapa pentingnya menunaikan ibadah wajib ketika kelak mereka sudah mencapai akil baligh. Dengan berpuasa, anak-anak akan belajar arti keikhlasan yang hakiki kepada Allah SWT dan akan selalu merasa diawasi oleh-Nya dalam kesendiriannya. Keinginan seorang anak akan terdidik dan terbiasa menahan diri dari Hasrat kepada makanan sekalipun ia lapar dan keinginan untuk minum meski terasa haus. Puasa juga akan menguatkan daya kontrol anak terhadap segala keinginan. Anak akan terbiasa sabar dan tabah.

Dalam psikologi perkembangan, ada sebuah penelitian menarik. “Psikolog membuat uji coba terhadap daya tahan dan pengendalian diri seorang anak terhadap makanan”. Di sebuah kelas, seorang guru membawa berbagai warna makanan cokelat yang menarik pada siswanya. “Anak-anak, Bu Guru membawa cokelat yang enak sekali, tapi nanti akan saya bagikan ketika kegiatan kelas sudah selesai,” ujar gurunya. Di tengah pembelajaran, sang guru pamit sebentar ke ruang guru untuk mengambil sesuatu.

Setibanya di kelas betapa sang guru kaget karena cokelat yang ada di mejanya sudah berpindah tangan dan dimakan anak-anak. Diperhatikan ada beberapa anak yang tidak ikut mengambil dan tidak makan cokelat. Penelitian ini berlangsung beberapa tahun dandiamati perkembangan anak berikutnya. Riset ini membuktikan bahwa anak-anak yang tidak ikut mengambil dan makan ternyata lebih sukses kehidupannya jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mampu menahan dan mengendalikan diri.

Cynthia Stifter, peneliti dari Universitas Penssylvania, Amerika Serikat, menyebutkan dua ciri pengendalian diri. Pertama, kemampuan anak untuk mengendalikan dorongan-dorongan melakukan sesuatu dan mengendalikan keinginan akan sesuatu. Kedua, kemampuan anak mematuhi norma sosial tanpa pengawasan. Dua hal ini dilakukan karena ada kerelaan dan fleksibel dengan berbagai situasi. Kemampuan pengendalian diri pada anak, membentuk fleksibilitas dalam beradaptasi dengan berbagai situasi. Penelitian lain menyebutkan bahwa anak usia empat tahun yang mampu menunda kepuasannya dalam jangka waktu cukup lama memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menghadapi sumber stresnya, pandai, dan berprestasi baik. Pengendalian dan menahan diri perlu dilatih sejak usia dini, bahkan sejak bayi. Sebab, pengendalian diri membutuhkan beberapa fase dalam perjalanan perkembangan anak. Fase pertama yaitu sampai anak usia 18 bulan, disebut fase kontrol. Anak-anak usia ini perilakunya masih dikendalikan dari luar, oleh orang dewasa di sekitar lingkungannya. Fase kedua dinamakan self control, ditandai munculnya perilaku anak dengan kesadaran melakukan kewajiban tanpa pengawasan. Fase ketiga adalah kemampuan anak menyesuaikan dan mengatur diri dalam berbagai kondisi.

Ibadah puasa adalah salah satu contoh latihan pembiasaan yang bisa dilatihkan kepada anak-anak sejak dini. Sebab, esensi puasa adalah latihan mengendalikan diri, mulai dari makan dan minum hingga mengelola nafsu diri dari perbuatan maksiat dan dosa. Melatih berpuasa kepada anak disesuaikan dengan tingkatan usia. Agar bisa sukses berlatih puasa, ada beberapa kiat yang bisa dilakukan.

Pertama, buatlah kesepakatan bersama bahwa mulai besok akan berpuasa dan upayakan anak tidur tidak terlalu malam agar ketika dibangunkan makan sahur tidak rewel. Buatkan menu masakan menarik kesukaan anak yang dapat merangsang anak cepat bangun dan memiliki selera makan.

Kedua, bila anak masih duduk di kelompok bermain dan taman kanak-kanak latihlah anak berpuasa mulai subuh hingga pukul 10.00 atau waktu duhur. Setiap hari dievaluasi tingkat kesiapan anak sesuai dengan kesiapan fisiknya. Tentunya diupayakan memberikan suplemen makanan (madu, sari kurma) atau makanan lain yang mendukung daya tahan lapar anak lebih lama. Bila anak sudah di sekolah dasar (SD) kelas 1, perlu latihan lebih lama lagi, bisa bertahap sampai duhur atau ditambah hingga Ashar, bahkan sampai sempurna masuk waktu magrib.

Ketiga, ajak bermain, membuat permainan dan berikan permainan yang edukatif agar anak menjalani puasanya tanpa terasa waktunya habis. Dari Rabi’ binti Mi’wad berkata ”........Kami mengajak anak-anak ke masjid dan memberikan pada mereka permainan yang terbuat dari wol agar mereka bisa tertidur olehnya. Jika ada salah seorang dari mereka yang menangis karena lapar, maka kami memberinya permainan hingga waktu berbuka tiba” (HR Bukhari-Muslim).

Keempat, berilah pujian bila anak sukses menyelesaikan puasa di hari itu agar besok lebih bersemangat lagi. Penguatan terhadap perilaku positif akan sangat mendukung terulangnya perilaku yang baik lagi. Begitu pula ketika anak mampu menyelesaikan puasa hari itu, tentu prestasi tersendiri, apalagi bila anak baru kali ini berpuasa.

Kelima, memberikanlah reward bila anakmampu menuntaskan hingga satu bulan.Reward tidak harus barang mewah, mahal tetapi sederhana pun bisa yang terpenting mampu memberikan motivasi kepada anak untuk beribadah yang lebih baik dan rajin.

Keenam, sering diajak ke masjid untuk shalat jamaah agar banyak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar atau ajak berbuka Bersama keluarga dan diberi kepercayaan memimpin doa sebelum berbuka. Bila sejak dini sudah terbiasa ke masjid, ini menjadi simpanan memori yang indah dan tak pernah terlupakan oleh seorang anak dan menjadi semakin cinta masjid.

Ketujuh, ajaklah bersilaturrahim ke kerabat saat Idul Fitri untuk memupuk semangat kekeluargaan.

Dengan memberikan motivasi untuk menjalankan perintah Allah sejak dini, mudah-mudahan Ananda kelak terbiasa dan ringan untuk melaksanakan kewajiban agama secara mandiri. 

Oleh : Drs. H. Subiyanto


Kampanye Terkait

Zakat Profesi



Rp 345,573 / Rp 1,000,000,000,000,000
hr tersisa

0%

Donasi