Entah ini sebuah aksioma atau hanya kesamaan modus, Ketika pembangunan masjid baru dirintis, jamaah kompak, saling bahu-membahu satu sama lain. Tetapi, ketika masjid sudah tegak berdiri, yang terjadi kemudian adalah friksi, perbedaan paham fikih, dan sejumlah pengurusnya saling bersitegang berebut pengaruh.

Konflik semakin meruncing tatkala sebagian penyumbang yang nilainya besar–puluhan bahkan ratusan juta– membuat klaim yang didukung oleh simpatisannya bahwa dirinyalah yang paling menentukan berdiri megahnya masjid.

Kesenjangan akan semakin melebar karena mereka yang merasa tidak banyak menyerahkan sumbangan terpinggirkan, keberadaannya tidak pernah dipedulikan, bahkan menjadi apatis atau masa bodoh. Karena itu, muncul stigma bahwa masjid adalah milik orang yang telah menyumbang sekian puluh juta rupiah, sekian ratus sak semen, sekian ton besi, atau sekian kubik material bangunan.

Memang sangat jarang pengurus masjid yang secara terbuka menyatakan keinginannya untuk memperoleh honor, insentif, atau imbalan tertentu. Tetapi, banyak pengurus masjid, baik donatur maupun pelaku operasional, masih tetap mengharap penghargaan. Minimal pengakuan atas jasa yang telah diberikan. Karena itu, bila ada selisih paham terhadap segala hal yang terjadi di masjid, ia menyebut apa yang sudah diberikan atau dilakukan untuk masjid sebelumnya. Mereka merasa telah mampu bahkan berkuasa atas apa yang sudah disumbangkan. Semakin besar kepala dan keras hatinya jika sanjungan dari orang lain datang kepadanya.

Ada pula orang yang keras suaranya, berbuih ucapannya, lantang memberikan pujian kepada orang yang menyumbang dengan maksud agar terangkat harga dirinya sebagai orang yang layak disanjung sebagai orang yang berjasa dan memiliki donasi. Tetapi, mari lebih jernih siapa yang paling sungguh berdonasi pada masjid kita. Bukankah setiap orang ingin berbuat baik, bukankah setiap orang yang shalat ke masjid, apalagi dirinya tinggal di lingkungan sekitar masjid, juga ingin berinfak?

Ada seorang kawan yang berbisik kepada saya, ”Sebenarnya mereka seharusnya malu kepada orang yang sumbangannya Cuma mampu seribuan, tapi saat menginfakkan dengan tetesan air mata karena malu pada Allah, sehingga dalam doanya ia memohon pada Allah agar orang-orang yang disebut namanya tadi diberi kemudahan oleh Allah untuk sukses usahanya sehingga banyak sumbangannya.”

Orang-orang yang majhuulun fil ardl seperti ini sesungguhnya banyak bertebaran di sekitar kita. Karena sedemikian rendahnya, banyak yang tidak menyadari keberadaannya. Mereka yang mendoakan kita, tetapi doanya tidak kita dengar. Mereka yang menangisi dosa kita meskipun kita sendiri tidak menyadari dan mereka telah menyediakan dirinya menjadi saksi di hadapan Allah atas semua perbuatan baik yang kita kerjakan. Mereka malu menampakkan diri karena sadar betul bahwa yang dikerjakannya sangat tidak pantas disaksikan atau didengar oleh orang lain. Maka siapakah kita?

Wallahu a’lam bisshawab.

(Ustd. Mim Saiful Hadi, M. Pd)


Kampanye Terkait

Bantu Tuntaskan Bangunan Pesantren Tahfidz Leader

Usiamu boleh Berakhir, Pahala Terus Mengalir. Ayo Bantu wujudkan mimpi para mahasiswa hafal Al Qur'an dan menjadi pemimpin masa depan

Donasi