Kemajuan teknologi menjadikan ilmu pengetahuan terbuka lebar. Begitu pula halnya dalam belajar Al-Qur’an. Banyak produk digital dengan berbagai metode belajar membaca Al-Qur’an yang tersedia.

Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak belajar Al-Qur’an hanya lantaran merasa sudah tua. Jika alasan lidah sudah kaku untuk melafalkan ayat-ayat secara fasih, coba kita lihat Rasulullah SAW. Beliau mulai menghafal Al-Qur’an di usia 40 tahun. Para sahabat juga di usia 30 ke atas masih memulai untuk mempelajari Al-Qur’an. Jadi, tidak ada kata terlambat dalam mempelajari Al-Qur’an.

Dalam memanfaatkan gadget yang selalu ada di genggaman anak milenial, LAZIS Nurul Falah Cabang Bali mengadakan kegiatan mengaji untuk anak SMA dan mahasiswa. Aktivitas mengaji ini dilakukan rutin secara berkelompok setiap Jumat malam. Sementara pada hari-hari lain dilakukan secara privat.

Ustadz M. Natsir, seorang pemuda lulusan Pesantren Al-Amien Madura, membimbing langsung para mahasiswa dan SMA dalam kegiatan mengaji tersebut, para peserta mengaji berjumlah 20 orang.

Alhamdulillah, para santri itu bisa tamat tilawati remaja walau dalam kurun waktu hampir satu tahun. Al-Qur’an ini tidak cukup untuk dipelajari sehari dua hari, namun harus selalu dipelajari dan tidak boleh tergesa-gesa dalam mempelajarinya. Seperti yang disebutkan dalam ayat ini, “Janganlah engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.” (QS Al-Qiyamah: 16).

Karena itu, belajar Al-Qur’an hendaknya dengan tartil dan tanpa tergesa-gesa. Semoga dukungan yang dilakukan LAZIS Nurul Falah Bali bisa menjadikan ghirah kaum milenial Bali untuk selalu belajar Al-Qur’an. (lazisnf)