Sangat penting bagi seseorang memiliki keyakinan. Terlebih yakin bahwa hidup di dunia ini untuk melaksanakan misi khusus yang ditugaskan Dzat Maha Pencipta manusia. Keyakinan itu akan dapat memandu jiwa dan raga manusia dalam mengarungi kehidupan yang sangat kompleks dan penuh kedinamisan ini.

Keyakinan membawa jiwa senantiasa semangat, penuh optimisme. Cita-cita hidupnya terisi dengan hal positif. Arah hidupnya lebih sempurna menyangkut kehidupan dunia dan kelak sampai di akhirat.

Sangat berbeda dengan orang yang tidak memiliki keyakinan tentang misi hidup. Disangkanya hidup hanya sebatas di dunia ini saja. Jiwanya hampa. Segala sesuatu yang dilakukan hanya berdasar baik dan buruk dalam ukuran kemanusiaan. Waktu yang dimiliki tersita untuk memenuhi kebutuhan jasad duniawinya saja.

Kondisi kejiwaan yang kosong itu sangat terasa dari pengakuan seorang mualaf yang dulunya sama sekali tidak peduli terhadap keyakinan yang diajarkan oleh agama. Setelah mengenal agama, hatinya lebih tenang, hidup lebih bermakna dan memiliki tujuan yang lebih sempurna.

Misi khusus yang diamanahkan kepada manusia oleh Sang Maha Pencipta itu tertuang dalam Al-Quran yang berbunyi ”Kami tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Kami (QS Adz-Dzariyat [51]: 56). Misi ini nampaknya sederhana tetapi memberikan pengaruh kejiwaan yang sangat fundamental bagi manusia dalam menjalankan kehidupan.

Konsep tersebut merupakan penyerahan total atas segala perilaku yang dilakukan oleh manusia. Sebagai bentuk pengabdian kepada Dzat yang menciptakan seluruh alam dan seisinya. Seluruh perilaku yang dilakukan dipersembahkan hanya untuk kepada Yang Maha Esa.

Adapun bentuk perbuatan sebagai persembahan kepada Sang Khaliq itu ada yang bersifat khusus dan ada yang bersifat umum. Dengan mengacu kepada keyakinan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah, maka setiap apa saja yang dilakukan atas dasar niat ibadah. Baik ibadah khusus (mahdhoh) dan perilaku secara umum (ghoiru mahdhoh). Al-Quran juga memberikan pemilahan terhadap perbuatan atau pekerjaan manusia.

Ada pekerjaan yang sifatnya untuk keakhiratan dan ada pekerjaan yang sifatnya untuk dunia. Keduanya harus dilaksanakan dan diatur secara proporsional. “Dan carilah apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi” (QS Al-Qosos [28]: 77). Ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia harus memiliki energi yang sanngat tangguh untuk meraih kesuksesan keduanya. Sukses dunia dan sukses kelak di alam akhirat.

Sebagai indikator orang yang sukses di akhirat kelak Al-Quran menginformasikan bahwa mereka itu yang banyak mengumpulkan omzet berupa pahala. Jika ditimbang antara omzet kebaikan dibanding omzet amal buruknya, lebih berat amal kebaikannya. Sebaliknya, orang yang rugi adalah orang yang omzet amal jeleknya lebih berat daripada amal baiknya. “Dan adapun orang-orang yang berat timbngannya maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang yang ringan timbangannya maka tempat kembalinya adalah neraka hawiyah” (QS Al-Qoriah [101]: 6-9). Ayat ini mengajarkan pada hakikatnya hidup di dunia ini untuk mengejar omzet pahala sebanyak-banyaknya agar kelak ditempatkan pada posisi yang sangat layak bersama para hamba kekasih-kekasih Allah. Semoga Allah senantiasa meridai segala ikhtiar dan perjuangan hamba-Nya. Aamiin. (Drs. KH. Umar Jaeni, M.Pd)


Kampanye Terkait

Sedekah untuk Guru Ngaji Indonesia

Ayo Empati Pada Guru Ngaji Ditengah Pandemi Covid-19

Rp 13,074,669 / Rp 50,000,000
64 hr tersisa

26%

Donasi