Kenangan indah, itulah sesuatu yang dirasakan umat Islam tentang bulan Ramadhan. Betapa tidak, hari-kari selama bulan Puasa tersebut terasa seduk manakala kita mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an di rumah Allah yang tersebar di berbagai sudut. Ibadah sunah yang biasanya sulit dilakukan begitu mudah dilaksanakan. Ramadhan menjadi tamu mulia yang selalu dirindukan.

Sesuatu yang membuat daya tariknya sangat besar dan amat dinanti-nanti kedatangannya adalah banyaknya keutamaan dan pahala yang melimpah. Banyak peristiwa besar yang mengiringi sejarah Islam di bulan suci itu. Misalnya, diturunkannya kitab suci Al-Qur’an pada 17 Ramadhan. Di sepuluh malam terakhir pada malam ganjil, ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Yaitu lailatul qadar. Tidak heran jika kaum muslimin diseluruh penjuru dunia berlomba-lomba meningkatkan ibadah demi mendapatkan malam tersebut.

Di antara sederet keutamaan dan berlimpah ruahnya pahala yang diberikan Allah SWT, terdapat hal penting yang patut dijaga, yaitu istiqomah beramal baik dan beribadah setelah Ramadhan berlalu.

Kita perlu memahami hal ini agar selalu taat beribadah dan istiqomah dalam beramal saleh di bulan-bulan lainnya sebagaimana Islam menganjurkan umatnya untuk terus beramal di setiap waktu dan tempat, baik pada bulan Ramadhan, Syawal, maupun bulan-bulan lainnya. Sebab, tidak terhenti aktivitas seorang muslim dari amalan dan ibadahnya kecuali apabila ajal telah menjemputnya.

Ibnul Qayyim al-Jauzi menyebutkan, di antara tanda diterimanya amal kebaikan seorang hamba adalah hamba itu meneruskannya dengan amal kebaikan lainnya. Maka bagaimana keadaan kita pasca Ramadhan? Apakah kita telah lulus dari sekolah takwa di bulan Ramadhan? Apakah kita termasuk orang-orang yang tetap punya semangat untuk terus bertaubat dan istiqomah setelah Ramadhan?

Ada beberapa golongan manusia saat Ramadhan telah berlalu. Golongan pertama tetap berada di atas kebaikan dan taat tatkala bulan Ramadhan tiba. Mereka menyingsingkan lengan baju mereka, melipat gandakan kesungguhan mereka, memperbanyak kebaikan, menyongsong rahmat, dan menyusul yang terlewati. Meski Ramadhan berlalu, mereka telah memperoleh bekal yang besar. Kedudukannya menjadi tinggi di sisi Allah.

Mereka menyadari sesungguhnya amal saleh tidak hanya terbatas di bulan Ramadhan. Mereka selalu puasa enam hari di bulan Syawal, puasa hari Kamis dan Senin serta puasa puasa lain yang disunahkan. Air mata selalu membasahi pipi mereka di tengah malam, dan di waktu sahur istigfar mereka melebihi orang- orang yang penuh dosa.

Golongan kedua adalah mereka yang hanya khusyuk di bulan Ramadhan. Golongan ini sebelum Ramadhan berada dalam kelalaian, lupa, dan bermain. Tatkala tiba bulan Ramadhan, mereka tekun beribadah, puasa dan shalat, membaca Al-Qur’an, bersedekah, air mata mereka berlinang, dan hati mereka khusyuk. Tetapi, setelah Ramadhan berlalu mereka kembali seperti semula. Kembali kepada kelupaan dan dosa mereka. Mereka menjadi orang-orang yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Seperti perkataan sebagian ulama salaf dahulu, ”Sungguh buruk suatu kaum yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja”. Sebagian lagi mengatakan, ”Jadilah seorang yang rabbaniy” (penyembah Allah) dan janganlah menjadi hamba ramadhan (ramadhaniy)”.

Golongan ketiga ialah golongan yang datang dan perginya Ramadhan tiada bermakna. Kondisi golongan ini sama seperti keadaan mereka sebelum datang dan perginya Ramadhan. Tidak ada sesuatu pun yang berubah dari mereka. Tidak ada perkara yang berganti. Bahkan, kemungkinan dosa mereka bertambah. Kesalahan mereka menjadi lebih besar. Catatan amal mereka bertambah hitam. Mereka merasa bulan Ramadhan adalah bulan berat. Bulan rintangan untuk menyalurkan kesenangan duniawinya. Itulah orang-orang yang benar-benar merugi. Mereka tidak mengenal untuk apa mereka diciptakan, terlebih-lebih mengenal kebesaran dan kehormatan Ramadhan.

Sahabat juga bisa turut menjadi bagian pelopor kebaikan untuk membantu saudara muslim kita yang sedang mengalami kesulitan, salah satunya adalah ust. Lufhi seorang guru ngaji yang sedang sakit dan butuh biaya pengobatan, mari Bantu Ust. Luthfi Sembuh dari Penyakit Bronkitis

Muslim yang sadar akan makna Ramadhan akan terus memelihara interaksinya dengan Allah SWT dengan mengaplikasikan nilai-
nilai kebajikan meskipun ia telah tamat dari Madrasah Ramadhaniyah. Ia sangat yakin bahwa esensi ketakwaan seharusnya dapat tetap disemai dan ditumbuh suburkan setelah Ramadhan. Ia akan tetap istiqomah berusaha untuk saleh terhadap dirinya dan sesama meskipun tidak diiming-imingi dengan ganjaran pahala yang belipat ganda seperti bulan Ramadhan.

Adalah sesuatu yang penting menjaga spirit ibadah ketika Ramadhan. Tetapi, sudah selayaknya seorang muslim mampu menjaga semangat beribadah itu dalam bentuk keistiqomahan lewat amal-amal kebaikan. Tentunya ini juga merupakan bentuk implementasi untuk menjadi hamba Allah yang terus berupaya lebih baik dalam beramal saleh. (Lazis NF/Eko)


Kampanye Terkait

Bantu Ust. Luthfi Sembuh dari Penyakit Bronkitis

Sedikit harta yang kita sisihkan sangat berarti bagi ustad Lutfi dan keluarga. Diharapkan ustad lutfi bisa kembali sehat seperti biasa dan dapat mengajar ngaji, sehinga membantu perekonomian keluarga.

Donasi