Menghormati kedua orang tua adalah kewajiban bagi seorang anak. Sebab, jasa-jasa mereka, terutama ibu, tak akan bisa dibayar dengan apa pun. Islam pun memberikan perhatian yang khusus terhadap hal ini, yakni menghormati dan menyayangi orang tua, terutama ibu.

Memasuki bulan Desember ini, masyarakat kita selalu memperingati Hari Ibu setiap 22 Desember. Peringatan tersebut tentu bukan tanpa alasan. Yakni, mengapa dinamakan Hari Ibu, bukan Hari Orang Tua. Tujuannya tentu saja tidak sekadar seremonial belaka atau hanya sekadar perayaan yang tidak substansial. Lebih dari itu, Hari Ibu selayaknya dimaknai dengan sungguhsungguh agar dapat menggugah dan mengingatkan kita semua betapa mulia sebutan dan kedudukan seorang ibu dalam kehidupan umat manusia. Hal ini tentunya tidak mengabaikan peran ayah.

Kemuliaan seorang ibu bahkan pernah menjadi suatu legenda yang sangat terkenal dari daerah Sumatera Barat. Ceritanya menjadi tradisi turuntemurun. Hal ini tak terlepas dari pesan moral yang baik bagi anak-anak dalam menghormati orang tuanya. Kisah itu adalah legenda Malin Kundang.

Dalam legenda tersebut dikisahkan ada seorang anak yang ingin sukses, kemudian merantau atau keluar dari kampung halamannya. Ia meninggalkan ibunya sendirian. Sang ibu awalnya merasa berat hati. Ia menangisi kepergian anaknya dengan disertai doa.

Beberapa tahun kemudian Malin menjadi saudagar kaya yang sukses. Istrinya cantik rupawan. Sayangnya, kesuksesan itu menjadikan Malin lupa asal-muasal sebelumnya. Celakanya, ia tidak mau mengakui ibundanya sendiri. Saat itu sang ibu telah mendengar Malin sudah sukses. Ia ingin menemui Malin karena sudah lama tidak bertemu dan amat merindukannya.

Hingga akhirnya wanita tua itu bertemu dengan sang saudagar berpakaian mewah nan megah, yakni Malin Kundang. Ia didampingi seorang istri yang cantik jelita. Dengan naluri seorang ibu, perempuan tua tadi memanggil sang anak. Ia yakin bahwa saudagar itu adalah Malin, anaknya yang lama telah pergi.

Namun, Malin melupakan seorang ibu yang pakaiannya dekil dan kotor itu. Malin enggan bertegur sapa dengan perempuan yang pernah mengandung, melahirkan, dan merawatnya sejak kecil itu. Malin merasa tidak pernah kenal dengan wanita tersebut yang sesungguhnya adalah ibu kandungnya. Bahkan, Malin berani mengusirnya. Keangkuhan Malin tersebut membuat sang ibu marah dan tidak terkendali.

Hingga sang ibu mengucapkan kata-kata yang tujuannya ingin memberikan pelajaran kepada anaknya. Singkatnya, ucapan ibunda Malin Kundang itu didengar dan dikabulkan oleh Tuhan sehingga Malim menjadi sebongkah batu.

Di masa Rasulullah SAW juga terdapat kisah seorang sahabat yang bernama Alqamah. Ia rajin shalat, rajin puasa, dan banyak bersedekah. Karena sakit keras, ia mengalami kesusahan menjelang meninggalnya. Ketika para sahabat lainnya yang mengunjunginya dan men-talqin dengan kalimah Laa Ilaha Illallah pada saat naza’, Alqamah tidak bisa mengucapkannya.

Setelah dicari penyebabnya, ternyata ibu Alqamah pernah marah kepadanya. Sang ibu merasa tersinggung tidak dipedulikan oleh Alqamah. Menurut sang ibunda, Alqamah lebih mendahulukan istrinya daripada ibunya.

Kemudian Rasulullah SAW meminta ibunya untuk memaafkan Alqamah agar kematiannya mudah. Tetapi, sang Ibu tidak mau memaafkan. Karena sang ibu tidak mau memaafkan anaknya, Rasulullah SAW mengancam akan membakar Alqamah untuk mempercepat kematian dan menghilangkan penderitaannya.

Kisah itu disebutkan dalam hadis yang sangat masyhur dan sering menjadi kisah-kisah teladan untuk mengajari anak-anak agar berbakti pada orang tuannya. Namun, dalam artikel Ustad Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf (alqiyamah.wordpress.com) dibahas bahwa hadis tersebut termasuk dhaif atau lemah karena terdapat perawi bernama Abul Warqo’ Fa’id bin Abdirrahman yang merupakan salah seorang yang ditinggalkan hadisnya dan seorang yang tertuduh berdusta.

Walaupun demikian, kisah ini tetap bisa menjadi cerita yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Yakni seorang seorang anak harus memuliakan orang tua, terutama ibunya.

Terlepas dari kisah-kisah tersebut di atas, sesungguhnya Allah SWT melalui firman-Nya dalam Alquran dan Rasulullah SAW dalam hadisnya telah memerintahkan kepada kita semua sebagai orang muslim untuk menghormati, memuliakan, menaati perintah orang tua. Manusia diperintahkan untuk tidak bermaksiat, menyayangi orang tua sampai akhir hayatnya, dan selalu mendoakannya ketika sudah wafat. Dalam beberapa ayat Alquran dan hadis lebih ditekankan lagi terhadap orang tua perempuan atau ibu sebagaimana dalam hadis berikut ini.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, ”Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ’Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi SAW menjawab, ‘Kemudian ayahmu’” (HR Bukhari nomor 5971 dan Muslim nomor 2548).

Menurut Imam AlQurthubi, hadis tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi SAW menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, kesulitan ketika menyusui dan merawat anak hanya dialami oleh seorang ibu. Tiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya (Tafsir Al-Qurthubi, X: 239).

Kesimpulannya, Islam memerintahkan umatnya untuk menghormati kedua orang tua. Dalam hal ini, seorang anak dituntut untuk memenuhi kewajiban menghormati, menyayangi, dan mendoakan mereka hingga akhir hayat. Lebih khusus lagi, penghormatan kepada ibu yang telah melahirkan kita ke dunia. Semoga kita dapat merengkuh jalan kebaikan dengan menghormati dan menyayangi kedua orang tua, terutama ibu. Memang momentum Hari Ibu ini tidaklah cukup untuk melukiskan penghargaan besar atas kasih sayang dan pengorbanan mereka. Sebab, sejatinya kasih sayang dan doa untuk mereka haruslah dilakukan setiap saat. (redaksi lazis nurul falah)


Kampanye Terkait

Bantu Yatim Ditinggal Orangtua Wafat

Mari Berbagi kebahagian kepada Santri yatim

Donasi