Allah Yang Maha kaya dan Maha Mengetahui selalu membimbing hamba-Nya untu menjadi pelopor memproduk sesuatu yang bernilai, bermanfaat tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan serta menjadi warisan para generasi.

Silaturahmi bukan sekadar budaya, tetapi memang ajaran Islam yang harus dijalankan oleh umatnya. Agar ajaran ini benar- benar berjalan terus-menerus sepanjang zaman, perlu ada upaya pelestarian sehingga silaturahmi menjadi ajaran yang membudaya bagi semua insan.

Di dalam Islam, ajaran silaturahmi banyak dijelaskan, di antaranya firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk” (QS Ar-Ra’du: 21).

Dalam tafsirnya, Wahbah az-Zuhaili menerangkan bahwa surat Ar-Ra’du ayat 21: “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan” ini bersifat umum. Hal itu mencakup seluruh perkara yang diperintahkan Allah untuk dijalin, di antaranya berupa:

1. Beriman kepada-Nya dan rasul-Nya serta mencintai-Nya.

2. Taat, tunduk, patuh untuk beribadah semata kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun.

3. Menjalin hubungan dengan ayah dan ibu melalui bakti dengan ucapan dan tindakan serta tidak berbuat durhaka kepada mereka.

4. Menyambung tali silaturahmi dengan kerabat dekat dan handai taulan melalui curahan sikap baik kepada mereka dalam bentuk ucapan dan perbuatan.

5. Menyambung tali silaturahmi dengan mereka, sesama teman, dan budak dengan memenuhi haknya secara penuh lagi sempurna, baik hak agama maupun hak duniawi.

Faktor yang menjadikan seorang hamba menjalin hubungan yang Allah perintahkan adalah khasy-yatullah (rasa takut kepada Allah) dan khawatir terhadap Hari Perhitungan. Atas dasar itu, Allah Swt. berfirman, “Dan mereka takut kepada Rabb mereka,” maksudnya mereka takut kepada-Nya.

Rasa takut mereka kepada Allah dan kekhawatiran terhadap Hari Perhitungan amalan menghalangi mereka untuk berbuat seenaknya dalam bermaksiat kepada Allah atau menyepelekan sebagian dari perintah Allah, lantaran takut terhadap siksaan dan mengharapkan pahala-Nya.

Banyak hadis Nabi yang menjelaskan tentang silaturahmi ini, di antaranya Rasulullah Saw. memberikan pesan melalui sahabat Uqbah bin Amir dengan tiga hal:

1. Sambunglah orang yang memutuskanmu.

2. Berikanlah bantuan kepada orang yang kikir kepadamu.

3. Maafkanlah orang yang berbuat zalim kepadamu.

Apa gerangan manfaat silaturahmi sehingga demikian penting Islam mengajarkannya? Tidak satu pun hal yang diajarkan Islam kecuali terdapat hikmah dan manfaat bagi semua insan. Di antara manfaat silaturahmi adalah:

1. Memberkahi umur dan melapangkan rezeki. Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahmi,” (HR Bukhari dan Muslim).

2. Bisa menambah taqarrub (kedekatan diri) kepada Allah Swt.

Hal ini disebabkan saat proses silaturahmi terjadilah interaksi misalnya saling menghabarkan masing-masing kondisi bahkan meningkat pada curhat problem sesama dan pada ahirnya berkomitmen saling mendoakan.

Maka, hal ini adalah merupakan sesuatu yang esensi dalam ajaran Islam serta memiliki kesan mendalam yang mampu mendekatkan diri kepada Allah.

3. Menciptakan keharmonisan bersama.

Silaturahmi juga dapat menjaga kerukunan dan keharmonisan dengan sesama. Saat bersilaturahmi kesempatan saling memaaf dapat membuat hubugan menjadi makin bersahabat.

Setiap insan tidak lepas dari kehilafan dan dosa, sehingga pada momen saling meminta dan memaaf ini dapat meciptakan keharmonisan antar sesama.

4. Menciptakan akhlak yang mulia.

Melakukan silaturahmi dengan orang yang telah memutuskan tali silaturahmi merupakan akhlak terpuji yang dicintai oleh Allah. Dalam hadis yang diriwayatkan Ali bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Maukah “Maukah kalian Aku tunjukkan perilaku akhlak termulia di dunia dan di akhirat? Maafkan orang yang pernah menganiayaimu, sambung silaturahmi orang yang memutuskanmu, dan berikan sesuatu kepada orang yang telah melarang pemberian untukmu.”

Melihat manfaat dan hikmah silaturahmi yang demikian agung ini, pembudayaan ajaran silaturahmi menjadi sangat urgen, terutama saat pandemi ini harus ada upaya khusus sehingga silatuurahmi sebagai ajaran Islam ini tetap menjadi branding dari bagian kehidupan umat Islam.

Adapun bagaimana strateginya agar saat pandemi ini silaturahmi tetap bisa berjalan dengan baik, maka masih terdapat puluhan cara teknis yang harus terus digali.

Semoga semangat pelestarikan dan pembudayaan silaturahmi ini merupakan bagian dari doa kita semua mudah-mudahan Covid-19 ini lekas dicabut oleh Allah Swt. (redaksi lazisnf)