Allah tidak pernah merancang hamba-hambaNya kecuali untuk menjadi yang terbaik. Allah Swt. berfirman, “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.cDan barang siapa yang berimankepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS At-Taghabun: 11).

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat tersebut antara lain adalah:
1. Beriman kepada Allah SWT itu mutlak dan tidak terbatas. Posisi iman yang demikian akan membuat kondisi manusia bahagia sebab dia merasa puas sebab segala yang terjadi adalah Allah yang mengatur. Dia yang maha mengetahui segala sesuatu.

Sebuah contoh ada seorang bernama Fulan memiliki 12 anak. Fulan adalah sorang pedagang sembako yang tekun dalam usahanya. Alasan memilih sembako sebagai komoditas adalah “kondisi apa pun yang dihadapi, manusia tetap butuh sembako”. Fulan juga yakin bahwa Allah akan memberinya hasil sebesar dan seserius usahanya. Maka, dia pun bekerja keras. Namun, kenyataan yang terlihat bukan hasil yang diimpikan. Kalas menurut teori bisnis, seharusnya dia Sudan menjadi orang yang kaya, terapi realitasnya kebutuhan pokok saja tidak mampu. Fulan berpikir bahwa dia sudah menjalankan hidup ini sesuai dengan rumus kehidupan, yaitu berusaha keras disertai ubudiyah yang tekun serta istiqamah, tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan, yaitu minimal kebutuhan pokok tercukupi. Suatu saat di malam hari dia menggenjot ibadahnya dengan mengharap pintu langit membukakan rezeki yang lebih baginya.

Di pagi harinya Fulan mendapat job besar dari suatu perusahaan yang membutuhkan stok beras dalam jumlah besar hingga dia ragu akan kemampuannya. MoU pun diteken dengan sedemikian meyakinkan. Maka, dia pun berusaha keras memenuhi janjinya, yaitu menyuplai beras pada perusahaan itu sebanyak 500 ton setiap pekan dalam masa dua bulan. Dalam MoU ditulis bahwa jika Fulan mampu melakukan proyek ini dengan baik, dia akan dibayar tunai setelah pengiriman ke-8 dan MoU dilanjutkan untuk termin berikutnya.

Termin kedua mendapat acungan jempol dari perusahaan, namun janji pembayaran tunai untuk pengiriman 2 bulan pertama hanya realisasi 25 persen. Perusahaan menyampaikan bahwa ada persoalan yang terjadi dengan pihak ke-3 sehingga pembayaran hanya bisa 25 persen. Perusahaan berjanji melunasi total setelah termin kedua selesai dikerjakan. Fulan juga melaksanakan dengan baik sebab dia yakin bahwa kejujuran yang dia lakukan pasti membuahkan kebaikan di belakang hari. Namun, kenyataan berbalik bahwa seusai sesi kedua tuntas. Perusahaan tidak membayarnya dengan alasan tidak bisa dipahami Fulan dan masalah ini berbuntut panjang ke serta mengarah ke ranah hukum. Fulan sangat paham bahwa usia dan harta akan habis untuk urusan hukum ini. Fulan Kembali berusaha membuka pintu langit setiap malam dan kali ini melibatkan seluruh keluarga dan anak, 50 persen mereka masih usia SD dan 50 persen usia remaja.

Setahun berjalan kondisi ini dinikmati bersama keluarga dalam jepitan ekonomi dan tanggungan utang kepada pihak ketiga untuk permodalan memasok sembako tersebut. Fulan dan keluarga seisi rumah layaknya sebuah pesantren plus. Artinya, kondisi ritual keluarga demikian kuat hatinya dan demikian kuat ibadahnya baik shalat wajib lima waktu selalu berjamaah juga dan berbagai macam puasa dan shalat sunah dari Duha, shalat malam dan lainnya, tilawatil Quran dan kultum kepada jamaah keluarganya selalu dilakukan dengan istiqamah. Tidak lupa pembacaan surat Al-Waqiah usai subuh dan magrib tidak pernah telat. Rumah Fulan itu bak pesantren, sedangkan dia dan istri sebagai kyai dan bu nyainya.

Pada tahun ke-3 kehidupan Fulan berubah sedemikian rupa. Tidak hanya Fulan pribadi menemukan jalan bisnis yang bagus, namun juga empat putranya yang sudah memiliki kemadirian secara ekonomi, bahkan mampu menopang kebutuhan adik-adiknya. Tetapi, yang luar biasa adalah keluarga besar Fulan berubah menjadi keluarga yang sangat dekat dengan Allah.

2. Ujian yang menimpa seseorang (termasuk Fulan) bisa menjadi undangan untuk lebih dekat lagi kepada Allah, sedang wujud undangan bagi Fulan tidak lain adalah keterpurukan ekonomi itu sendiri. Fulan membawa keterpurukan sebagai media mendekat kepada Allah.

3. Realitas kehidupan yang dialami Fulan sesungguhnya adalah proses yang didesain Allah. Tujuan ahir menjadi keluarga yang memiliki derajat tinggi “kaya yang saleh”. Sangat mungkin orang yang terpuruk seperti Fulan justru menjauhi undangan Allah, tapi tidaklah demikian bagi Fulan.


4. Maka makna ayat 11 “tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah” adalah justru Allah mendesain Fulan melalui test case keimanannya dan Fulan memilih musibah sebagai jalan mendekat Allah SWT. “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya”. Di telinga Fulan seakan terbisik pesan hadis Nabi SAW: “Janganlah kamu berburuk sangka kepada Allah terhadap sesuatu yang telah ditetapkan-Nya atas dirimu”. Semoga kita mendapat keberkahan Allah atas ayat dan hadis ini, aamiin. Wallahu a’lam. (Drs. H. Ali muaffa/ Redaksi lazisnf)

 

 

 

 


Kampanye Terkait

Aksi Peduli Bencana Erupsi Gunung Semeru

Mari Peduli Bersama kepada sesama Korban Bencana di Negeri Tercinta Indonesia

Donasi