Ketika mendengar kata ”taat”, apa yang terbayang di benak Anda, sesuatu yang positif atau negatif? Ada yang memandang negatif karena merasa kebebasannya dibatasi. Jika kita perhatikan anak-anak, umumnya mereka tidak suka menaati perintah orang tuanya. Apa reaksi mereka Ketika orang tua memintanya tidur siang dulu baru bermain? Atau kita sendiri, ketika berada di jalan raya dan mengetahui rambu-rambu lampu kuning menjelang lampu merah, apakah semakin kita pacu atau perlahan-lahan dan berhenti?

Ada orang yang tahu menyuap itu tidak boleh, tetapi ia tetap saja melakukannya dengan berbagai alasan. Kita tahu berbohong itu tidak diperbolehkan, tetapi masih sering kita melakukannya. Ketika ditanya ”mengapa terlambat?”, alasannya macet. Padahal, kita tahu tidak ada jalanan yang lenggang di kota.

Kita tahu bahwa menerobos jalur kereta api itu berbahaya dan tidak sesuai dengan undang-undang pemerintah. Namun, demi mengejar order, kita abaikan anjuran baik tersebut. Berbagai alasan kompromi dilontarkan untuk membenarkan perbuatan kita dan memaksa orang lain memaklumi kondisi kita. Padahal, kita tahu perintah taat itu datang langsung dari pemilik kehidupan.

Dalam setiap lini kehidupan, banyak perintah ketaatan yang harus kita ikuti. Taat sering diartikan dengan patuh atau tunduk. Taat bisa dikaitkan dengan perintah dan larangan. Ada perintah untuk taat dan ada larangan untuk taat.

Dalam Alquran surat Al Ahzab ayat 1 dan 48, terdapat larangan taat kepada orang kafir dan sombong. Oleh karena itu, taat kepada yang kafir dan sombong tidak dinamakan taat di dalam konsep alquran.

Bila merujuk pada Alquran, objek taat hanya pada tiga, yaitu Allah, Rasul, dan penguasa (ulil amr). Tiga objek ini terdapat dalam Alquran surat An Nisa ayat 59. Taat kepada Allah adalah menggunakan Alquran sebagai pedoman hidup. Taat kepada-Nya karena Rasul telah diutus Allah untuk menjelaskan perintah dan larangan-Nya agar manusia dapat mengerti dan mengamalkannya. Oleh sebab itu, beliau adalah suri tauladan yang harus wajar diikuti. Taat kepada penguasa ialah mematuhi peraturan-peraturan yang dibuatnya,  selama peraturan itu dibuat berdasarkan musyawarah dan tetap sejalan dengan ajaran Alquran dan sunah Nabi SAW. (eko)


Kampanye Terkait

Zakat Profesi



Rp 475,009 / Rp 1,000,000,000,000,000
hr tersisa

0%

Donasi