Orang Indonesia sangat akrab dengan hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945. Sayangnya, tidak banyak yang mengetahui sejak kapan Indonesia dijajah. Padahal, justru dengan menelusuri jejak penjajahan di Indonesia akan diketahui detail perjuangan para pejuang, khususnya pejuang-pejuang muslim.

Penjajahan di Indonesia sebenarnya merupakan sebuah efek terjadinya revolusi industri yang dimulai dari Britania Raya hingga seluruh Eropa Barat, selanjutnya menyebar ke segala penjuru dunia. Perubahan dalam beragam sector menjadikan negara maju mulai berekpansi ke negara-negara di seluruh dunia untuk memasarkan produknya sekaligus mencari bahan- bahan baku dari proses industri yang telah berkembang di negara-negara maju.

Kebetulan Indonesia merupakan negara subur di Asia Tenggara. Bahkan, jika dilempar, di Indonesia tongkat bisa menjadi tanaman. Karena itu, Indonesia menjadi sasaran empuk bagi negara-negara penjajah.

Pada akhirnya justru belanda yang berhasil menduduki nusantara. Hal ini ditandai dengan berdirinya VOC pada 20 Maret 1602. VOC adalah Vereenigde Oostindische Compagnie atau Kongsi Perdagangan Hindia Timur. Pemerintah Belanda memang jeli, Indonesia tidak sekadar dipandang dari sisi kesuburannya, tapi juga letaknya yang sangat strategis. Dari sinilah selanjutnya bermula zaman penjajahan yang panjang.

Gerakan untuk mengusir penjajah dari bumi nusantara bergejolak di mana-mana, terutama dilakukan oleh pejuang-pejuang muslim. Pangeran Diponegoro adalah salah satunya. Pahlawan yang sering digambarkan menunggangi kuda putih ini melihat betapa buruknya kondisi masyarakat secara struktural akibat hadirnya para penjajah. Waktu itu secara ekonomi masyarakat sangat lemah dan tertindas. Sang Pangeran mendobrak identitas masyarakat Jawa yang ”nrimo” dan mengajak untuk memberontak penjajahan dengan semangat Islam dan berbasis kemiliteran.

Semangat dari Jogjakarta memberikan efek luar biasa. Dukungan dari petani, rakyat, dan ulama semakin besar. Dari Pangeran Diponegoro pula, ulama besar semacam Kiai Mojo dan bangsawan Sentot Alibasyah Prawirodirjo tersulut untuk berjuang bersama. Bahkan, semangat ini mengobarkan perjuangan di Kedu, Kulon Progo, Gunung Kidul, Sukowati, Semarang, Madiun, Magetan, dan Kediri (Jejak-Jejak Pahlawan, 2007). Artinya, Pangeran Diponegoro saat itu merupakan obor perjuangan melawan penjajah di wilayah Jawa.

Di wilayah Banten pemberontakan kepada penjajah (1880-1888) juga diprakarsai oleh pejuang muslim yang bernama KH Abdul Karim. Ulama besar tersebut menggagas pemberontakan petani. Namun, pemberontakannya tercium oleh Belanda dan selanjutnya pelaku pemberontakan yang berjumlah 94 orang diasingkan ke berbagai penjuru nusantara. Namun, dari 94 orang tersebut semangat perjuangan justru menjalar ke seluruh pelosok Indonesia. Sayangnya, perjuangan ini tidak banyak dicatat dalam buku sejarah.

Diskriminasi tajam terhadap masyarakat duafa pula yang menjadikan KH Samanhudi sebagai seorang muslim mendirikan Syarikat Dagang Islam (SDI) di Solo sebagai bentuk perjuangan dalam menghilangkan penindasan struktural. Menonjolnya keangkuhan para pedagang Cina di bawah naungan Belanda membuat yang lemah menjadi semakin lemah. Melewati sejarah panjang SDI selanjutnya berubah menjadi Sarikat Islam (SI).

SI dalam tonggak sejarah menjadi salah satu pengobar semangat perjuangan bangsa, terutama dari pidato HOS Tjokroaminoto di kongres pertama SI yang diadakan di Surabaya,

”Dengan kongres ini, itu adalah pertanda bukti daripada kebangkitan hati rakyat Indonesia yang dipandang orang sebagai seperempat manusia... bahwa apabila suatu rakyat telah bangun dari tidurnya, tak sesuatu pun dapat dihalangi geraknya ... bahwa kelahiran SI semata- mata kodrat Allah Ta’Ala belaka bahwa umat Islam Indonesia harus bersatu dalam ikatan agamanya.” (Soerabaia Tempo Doeloe, 2002).

Lain cerita di Aceh, boleh dikatakan pihak Belanda paling lelah menaklukkan Indonesia di daerah yang berjuluk Serambi Mekah tersebut. Perlawanan tak padam dilancarkan oleh Teuku Cik Di Tiro (1836-1891), Cut Nya Din (1850-1908), Teuku Umar (1854-1899), Cut Meutia (1870-1910), dan Teuku Nyak Rif (1899-1946).

Secara waktu, pergolakan pemberontakan di Aceh tergolong paling lama. Dalam catatan Paul Van ’T Veer di buku Perang Aceh, pergolakan perlawanan tidak hanya sampai 1904, namun berlangsung sampai 1942. Bahkan, dalam jumlah korban, perang Aceh mencapai lebih dari seratus ribu jiwa.

Dalam pengantar buku tersebut dijelaskan bahwa ada satu pertanyaan yang tidak bisa terjawab, yaitu berkaitan dengan seberapa tepat strategi yang sudah digunakan. Mulai taktik militer, teror, penculikan, bahkan hingga provokasi dan adu domba dilakukan. Hingga selanjutnya datanglah Snouck Hurgronje seorang orientalis yang menyelami budaya masyarakat hingga dua tahun.

Pemerintah Belanda hanya ingin mencari cara untuk menghanguskan perlawanan yang tak pernah habis dan didasari oleh kesatuan umat Islam yang begitu solid. Jenderal-jenderal datang dan pergi, yakni J. van Swieteen, K. van der Heijden, dan J.B. van Heutsz.

Snouck Hourgronje selanjutnya menyamar menjadi Haji Abdul Ghaffar dan berkhotbah demi memisahkan agama Islam dari sendi-sendi kehidupan atau dengan kata lain menjadikan agama cukup di masjid saja. Orientalis yang fasih berbahasa Arab, Jawa, Aceh, dan Melayu ini kemudian menyarankan untuk tidak menggunakan teror militer yang justru mematik emosi lebih besar.

Yang paling emosional tentu saja pidato dari seorang Bung Tomo yang dikenal memiliki ”magic voice” untuk membakar semangat para pejuang. Di Kota Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan, dengan baju khas ala militer Bung Tomo berpidato dengan identitas keislamannya. Seperti inilah potongan-potongan pidato Bung Tomo.

Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.

Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!

Dan kita yakin saudara-saudara.

Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,

Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Merdeka!!! (Pertempuran Surabaya, 1998)

Karena itu, pada hakikatnya pejuang-pejuang muslim memiliki identitas yang sangat jelas dalam hiruk-pikuk perjuangan menuju kemerdekaan bangsa Indonesia. Fakta paling jelas tentu saja pada siding BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 22 Juni 1945. Saat itu disepakati Pancasila sebagai dasar negara dengan tambahan tujuh kata pada sila pertama, yakni ”dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” yang selanjutnya dikenal dengan Piagam Jakarta. Meskipun pada akhirnya kalimat tersebut dihapus, hal tersebut tetap menandakan bahwa pahlawan-pahlawan muslim dan kesatuan umat Islam memiliki andil besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. (bina qolam)


Kampanye Terkait

Kado Istimewa untuk Pahlawan Sepanjang Masa

Muliakan Gurumu mulai hari ini, dengan kado Istimewa

Rp 63,000 / Rp 50,000,000
30 hr tersisa

0%

Donasi