Keserakahan dalam diri atau berserah ke Illahi

Ibadah qurban yang dilaksanakan setiap tahun memberi isyarat kepada manusia agar menggunakan akalnya. Hewan qurban merupakan simbol dari sifat binatang dalam diri manusia agar disembelih. Esensi ibadah qurban harus menjadikan atau menyuburkan jiwa ketaqwaan, sekaligus meredam atau bahkan menyembelih nafsu keburukan. Menjaga kebersihan jiwa itu merupakan pendakian ruhaniah yang tidak mudah.

Salah satu sifat binatang dalam diri manusia adalah serakah. Keserakahan adalah salah satu sifat manusia yang sangat buruk. Mengapa dikatakan buruk?, karena memiliki dampak yang buruk. Keserakahan merupakan sikap anti sosial yang dapat merugikan banyak orang. Karena itu lah keserakahan merupakan bagian dari kejahatan.

Lalu apakah arti keserakahan itu? Apakah dapat kita artikan seorang yang rakus, suka mengambil hak orang lain atau merampas harta orang lain? Tidak demikian , keserakahan itu adalah sikap anti kebersamaan. Orang yang serakah adalah orang yang memiliki motiv pribadi, efeknya adalah mereka suka menindas , melecehkan dan menzhalimi saudara dengan alasan kepemilikan. Tentu seorang yang telah memenuhi prosedur hukum sekalipun tidak terlepas dari sifat ini.

Saya lebih sepakat dengan definisi yang ditawarkan Nabi Muhammad SAW tentang serakah, ”Cukuplah seorang itu disebut serakah bila ia berkata (berprinsip), ini adalah milikku, tidak ada sedikitpun hak milikmu,”.

Banyak sekali manusia, termasuk saya, kita, yang tidak puas dengan apa yang dimiliki. Bahkan seringkali, makin banyak harta yang dipunyai, makin besar keinginan untuk menambah lagi.

Situasi pandemi Covid-19 yang masih belum tahu pasti kapan akan berakhir pada dasarnya telah menceritakan situasi sosial yang sarat dengan krisis. Di dalamnya ada krisis kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan terkhusus dalam pembelajaran belajar mengaji di TPQ dan krisis lainnya yang menyentuh aspek kehidupan lainnya tanpa bisa diprediski sebelumnya. Semua kenyataan ini masih dirasakan bersama, menunggu kapan bisa normal kembali dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang telah dijalankan dengan prinsip kehati-hatian. Seraya menanti keadaan betul-betul normal, momentum Idul Adha 1441 Hijriyah semakin dekat.

Melalui ibadah ini seseorang harus dapat menyingkirkan sifat kebinatangan dalam diri. Menjadi percuma jika ibadah qurban hanya ritual tahunan tanpa makna. Karena bukan hewan qurban yang diinginkan Allah namun ketakwaan orang yang melaksanakan ibadah ini. Setiap insan beriman yang memiliki kelebihan rezeki dan akses kehidupan diperintahkan untuk peduli dan berbagi dengan sesama.

Kita dapat temukan peristiwa-peristiwa itu dalam kehidupan sehari-hari. Dan tidak tertutup kemungkinan pelaku telah beberapa kali melaksanakan ibadah qurban. Sebagai contoh, Nabi Ibrahim as, Siti Hajar, dan Nabi Ismail as mengajarkan ketulusan dalam beribadah kepada Allah SWT, kisah ini diceritakan dalam Surat Ash-Shaffat 101-111. Ikhlas beribadah, bermuamalah, menerima musibah, bersedekah dan lainnya, dijelaskan semuanya dalam kisah itu.

Ujian keikhlasan akan dihadapi justru saat menghadapi yang berat dan tidak menyenangkan. Tapi disanalah esensi ujian keikhlasan menuju kehidupan yang menciptakan insan taqwa. Setiap ibadah, harus mampu meningkatkan kedekatan dengan Allah SWT dan menciptakan relasi sosial yang harmonis dalam jalinan hablum minallah dan hablum minannas, jika ini terbangun maka manusia akan mendapatkan keutamaan di dunia dan di akhirat. (bms)


Kampanye Terkait

Sedekah untuk Guru Ngaji Indonesia

Ayo Empati Pada Guru Ngaji Ditengah Pandemi Covid-19

Rp 12,379,025 / Rp 50,000,000
40 hr tersisa

25%

Donasi