Buah Pisang bagi saya memiliki makna tidak sekedar manfaat kandungan nutrisi yang sangat bermanfaat bagi manusia. Buah pisang juga mengandung makna emosional yang sangat mendalam bagi saya karena menjadi Bahasa isyarat dari ibu saya menyiratkan kerinduan pada anaknya.

Tak terhitung waktu saya menelepon ibu, pagi, siang, atau malam sekalipun. Jika kemudian beliau bercerita tentang pisang sebelah rumah mulai menguning dan akan ditebang, itu artinya beliau sangat mengharap anaknya segera pulang. Bukan untuk mengambil pisang, tetapi pasti banyak hal diutarakan kepada saya. Dan bila sudah cukup, saya akan pamit, lalu beliau membawakan pisang sebagai oleh-oleh yang di rumah. Karena itu, tidak perlu lama berpikir, saya langsung paham, lalu berkemas sepulang dari kerja dan bersegera meluncur pulang dengan kendaraan apa pun, entah mobil pribadi atau tidak jarang naik bus umum jika badan terasa lelah.

Suatu hari saya duduk memandangi puluhan pohon pisang yang tumbuh subur di kebun sebelah rumah ibu. Saya merasa ibu saya sedang memberi pesan bahwa sebesar apa pun atau sekokoh apa pun batang pisang tumbuh, ia hanya akan sekali saja menghasilkan buah sepanjang hidupnya. Buah yang dihasilkan tidak selalu sama antara pohon satu dan yang lainnya, meskipun tumbuh berimpitan dan akarnya saling berkelitkelindan. Besar kecil dan sedikit banyak tandan yang dihasilkan merupakan hasil dari proses hidup yang mereka jalani oleh masing-masing pohon, tidak saling berebut atau mematikan satu sama lain.

Hebatnya Allah dalam menciptakan pohon pisang adalah sebatang pohon pisang akan menghasilkan buah bersamaan dengan menumbuhkan tunas untuk menghasilkan buah berikutnya. Hebatnya lagi, sebatang pohon pisang menumbuhkan tunas baru lebih dari satu batang sehingga regenerasi keluarga pisang tidak akan pernah punah.

Sedemikian terang Allah mengajari semua manusia bahwa betapa pentingnya regenerasi. Salah satu prinsip regenerasi yang penting adalah melakukan ketika masa produktif. Regenerasi tidak bisa menunggu ketika masa tua atau waktu telah senja telah melewatu masa sukses. Penyiapan penerus generasi dilakukan pada saat sedang proses berjalanan menuju titik puncak dari siklus kehidupan.

Sifat serakah dan tidak percaya pada orang lain yang sering menghalangi seorang manusia untuk segera melakukan regenerasi. Belenggu yang memenjarakan adalah adanya perasaan bahwa dirinya masih berpikir cemerlang, masih kuat dan mampu mencapai target dan cita- cita, sehingga tidak memberi kepercayaan dan kesempatan yang luas untuk generasi berikutnya untuk tumbuh dan menghasilkan buah yang lebih besar. Kesadaran bahwa hidup hanya sekali dan menghasilkan buah hanya sekali akan mendorong setiap kita menyiapkan penerus untuk kehidupan berikutnya.

Buah yang kita hasilkan hari ini berupa karya atau prestasi tidak berarti apa pun bila hanya dipersembahkan hanya untuk diri sendiri dan hanya di masa sekarang. Apalagi memiliki persangka bahwa orang lain tidak akan mampu mencapai keberhasilan sebagaimana dirinya. Pandangan terhadap generasi penerus bahwa mereka tidak mampu, tidak pengalaman, belum matang dan semacamnya akan mempertebal rasa tidak percaya pada generasi selanjutnya dan semakin menjauhkan mereka dari jalan sukses yang pernah kita rintis.

Buah pisang bagi saya merupakan pesan yang mendalam dari orang tua tercinta. Sebab, sebatang pohon pisang ketika akan dipanen buahnya dan ditebang batangnya, ia telah menumbuhkan tunas baru yang akan melanjutkan misi hidupnya. Sehingga dalam hidup yang hanya sekali bukan hanya menghasilkan buah yang dinikmati hanya oleh dirinya dan orang semasanya, tetapi juga harus melahirkan generasi baru yang dapat menjaga kesinambungan amal jariyah yang telah ditebarkan pada masa yang panjang. Rabbaana maa khalaqta haadza baathila.... (Ust. H. Mim Saiful Hadi, M.Pd)


Kampanye Terkait

SEDEKAH BUKA PUASA SUNNAH UNTUK PENGHAFAL AL QURAN

Kami mengajak kepada para sahabat bersedekah buka puasa Sunnah untuk santri penghafal Al Qur'an. Insya Allah setiap butir nasi yang mereka makan akan menjadi pahala yang terus mengalir kepada Sah

Donasi