Kemukjizatan tasyri’. Allah meletakkan dalam diri manusia banyak gharizah (naluri, emosi, nafsu) yang bekerja di dalam jiwa dan mempengaruhi kecenderungan-kecenderungan hidupnya. Jika akal sehat dapat menjaga pemiliknya dari ketergelinciran, tidak demikian dengan gharizah. Ketika gharizah yang berkuasa, akal tidak sanggup menahan luapannya. Untuk mengendalikan hal tersebut, diperlukan pendidikan yang membimbing manusia kearah kebaikan dan keselamatan. 

Di bagian itulah, syariat-syariat dalam Alquran menuntun manusia. Misalnya, syariat zakat. Ia mencabut akar-akar kekikiran, pemujaan harta secara berlebihan, dan keserakahan terhadap dunia. Zakat menegakkan pilar-pilar kerja sama antara orang kaya dan orang miskin dan menyadarkan jiwa akan pentingnya solidaritas sosial. 

Syaikh Muhammad Ali Al Shabuniy menyebutkan ada sepuluh macam kemukjizatan Alquran, yakni:

1. Susunan yang begitu indah, yang tidak ada padanannya dari setiap susunan Arab, baik dari syair, puisi, maupun prosa. Hal ini diakui oleh para pembesar ahli bahasa Arab. Misalnya, Walid bin Mughirah dan ‘Utbah bin Rabi’ah.

2. Gaya bahasa yang menakjubkan, yang sama sekali berbeda dengan setiap gaya bahasa Arab. Gaya Bahasa Alquran mampu membuat orang terkagum-kagum merasakan keindahannya, mampu membuat akal dan hati sejuk serta tenteram.

3. Keagungan Alquran yang tak dapat ditiru oleh siapa pun karena memang di luar batas kemampuan manusia.

4. Penetapan syariat yang komprehensif. Alquran menjelaskan aqidah, hukum-hukum ibadah, nilai-nilai etika, kaidah ekonomi, politik, sosial, dasar-dasar peradaban.

5. Informasi mengenai hal-hal yang masih ghaib, juga informasi mengenai masa depan. Misalnya, perang antara Romawi dan Persia yang terdapat pada Alquran: 

“Alif laam Miim. telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.”

6. Tidak adanya pertentangan dengan ilmu modern. Dalam pandangan Syaikh Muhammad Ali Al Shabuniy banyak isyarat-isyarat dari Alquran yang menunjukkan kebenarannya setelah terkuaknya ilmu pengetahuan modern. Walaupun Alquran bukan buku ilmu pengetahuan alam, ilmu geografi dan bukan juga buku kimia, namun Alquran mengandung banyak isyarat yang menunjukkan temuan-temuan tersebut, dan itu disampaikan sebelum adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti hari ini. Hal ini menunjukkan kemukjizatan Alquran.

7. Terbuktinya apa saja yang disampaikan Alquran baik yang berupa wa’d (janji) maupun wa’iid (ancaman).

8. Ilmu-ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam Alquran.

9. Mampu menjawab persoalan, permasalahan, problematika dan kebutuhan yang dihadapi manusia.

10. Alquran mampu menggetarkan hati baik pengikutnya maupun yang kontra dengannya.

Dapat disimpulkan bahwa i’jaz berasal dari kata a’jaza yu’jizu i’jazan yang artinya melemahkan, memperlemah, atau menetapkan kelemahan. Kata i’jaz sendiri awalnya berasal dari kata dasar ‘ajaza ya’jizu yang artinya lemah atau tidak mampu. Mukjizat disebut mukjizat karena manusia tak mampu dan tak kuasa untuk melakukan hal tersebut. Berbeda dengan mukjizat Nabi-nabi sebelumnya turut lenyap setelah masanya berlalu, Alquran mukjizat Nabi Muhammad bersifat kekal dan abadi karena bersifat ‘aqliy yang bisa dilihat langsung oleh umat Islam hingga akhir zaman.

Adanya mukjizat bukan sekedar untuk menampakkan kegagahan agar orang-orang takluk, tunduk, dan mengakui bahwa mereka tidak mampu membuat seperti Alquran. Ini sudah pasti dan tak ada yang menyangsikan. Lebih dari itu, tujuan adanya mukjizat adalah untuk menunjukkan bahwa kitab Alquran adalah benar, bahwa Nabi Muhammad yang berada di tengah umat ini adalah rasul yang dapat dipercaya, dan bahwa wahyu yang turun adalah benar-benar dari Allah SWT.

Alquran menantang orang Arab agar membuat yang semisalnya dengan kadar yang bertahap, volume tantangan ini berangsur-angsur diturunkan menjadi lebih ringan, dari keseluruhan menjadi sepuluh surat, dari sepuluh surat menjadi satu surat, dan bahkan lebih ringan dari itu. Namun demikian, tidak seorangpun dari mereka yang sanggup menandingi atau mengimbangi Alquran.

Dalam hal wujuh i’jaz Alquran, walaupun ada perbedaan antara Syaikh Manna’ Khalil Al Qatthan dengan Syaikh Ali Al-Shabuniy, namun setelah melihat pendapat para ulama di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kemukjizatan Alquran terletak pada seluruh aspeknya, baik bahasanya, susunan kata dan kalimatnya, keindahan uslub-fashahah-balaghahnya, komprehensifitasnya mengenai segala sisi kehidupan manusia, baik sosial, ekonomi, dan peradaban, juga informasi mengenai hal-hal gaib dan misteri masa depan hingga isyarat-isyaratnya yang membuktikan kebenaran teori ilmu pengetahuan jauh-jauh hari ratusan tahun yang lalu sebelum penemuan teori itu sendiri.

Inilah sekelumit keterangan tentang kemukjizatan Alquran. Diharapkan umat Islam lebih mantap keimanannya terhadap kalamullah. Singkatnya, tulisan tentang kemukjizatan Alquran adalah semata sebab keterbatasan ruang dan waktu, namun sesungguhnya jika dijelaskan pun tidak akan mampu tangan dan pikiran ini mengkover ilmu Allah yang Mahaluas. Semoga membawa berkah ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.


Kampanye Terkait

Zakat Maal



Rp 3,754,093 / Rp 1,000,000,000,000,000
hr tersisa

0%

Donasi