Al Qur’an selalu menarik untuk diteliti dan dikaji. Kandungan kitab suci terus-menerus digali oleh para pengkajinya. Mereka berusaha menemukan jawaban dari pertanyaan- pertanyaan tentang otentisitas Alquran, kebenaran kandungannya, nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya, dan eksistensi Al Qur'an sebagai mukjizat abadi Nabi Muhammad SAW.

Pemahaman dan pengkajian Al Qur'an sebagai mukjizat ini terkait dengan kehebatan Al Qur'an dalam menantang dan mengalahkan berbagai upaya orang-orang yang mencari atau mencari-cari kekurangan atau kelemahan Al Qur'an. Tantangan Al Qur'an dan kemampuan mengalahkan “lawan-lawannya” itu ini dinamakan i’jaz atau mukjizat Al Qur'an.

I’jaz atau mukjizat Al Qur'an adalah studi tentang bagaimana Al Qur'an mampu melindungi dirinya dari beragam “serangan”, baik yang berbentuk ketidakpercayaan maupun keragu-raguan sampai pengingkaran terhadapnya. Pada saat yang sama, Al Qur'an juga mampu melakukan serangan balik yang mampu mementahkan dan mengalahkan serangan-serangan tersebut.

Tinjauan Umum tentang I’jaz Al Qur’an

Dari segi bahasa (etimologi), i’jaz berasal dari kata a’jaza yu’jizu i’jazan yang artinya melemahkan, memperlemah, atau menetapkan kelemahan. Kata i’jaz sendiri awalnya berasal dari kata dasar ‘ajaza ya’jizu yang artinya lemah atau tidak mampu. Mukjizat disebut mukjizat karena manusia tak mampu dan tak kuasa untuk melakukan hal tersebut.

Mukjizat adalah hal di luar kebiasaan yang disertai dengan tantangan tak terbantahkan oleh perlawanan siapa pun. Mukjizat ada yang bersifat hissiy (fisik/ inderawi) dan ada yang sifatnya aqliy. Biasanya kemukjizatan masing-masing Nabi adalah hal-hal yang sesuai dengan bidang keahlian umatnya. Mukjizat yang sering muncul di masa Bani Israil adalah yang bersifat hissiy. Sementara mukjizat yang muncul pada zaman Nabi Muhammad SAW kebanyakan adalah yang bersifat aqliy karena tingginya tingkat kecerdasan dan pemahaman umat beliau.

Rasulullah SAW bersabda:

”Tiada seorang nabi pun kecuali diberi mukjizat yang dapat membuat manusia beriman kepadanya. Namun, apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan kepadaku. Karena itu, aku berharap semoga kiranya aku menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya.”

Berbeda dengan nabi-nabi lain, yang mukjizat itu sirna ketika masa mereka telah berlalu, yakni tidak dapat disaksikan lagi kecuali oleh orang-orang melihatnya secara langsung di saat terjadinya mukjizat seperti mukjizat Nabi Musa as yang berupa tongkat karena beliau diutus di masyarakat yang akrab dengan dunia sihir, mukjizat Nabi Isa as yang mampu menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit kusta karena pada zaman tersebut banyak ahli kedokteran, maka daya mukjizat Alquran tak lekang oleh zaman. Seiring bertambahnya waktu, justru semakin banyak hal-hal terkuak yang membuktikan kebenaran isi kandungan Alquran.

Tujuan dan Peranan I’jaz

Adanya i’jaz bukan sekedar untuk menampakkan kegagahan agar orang- orang takluk, tunduk dan mengakui bahwa mereka tidak mampu membuat seperti Al Qur'an. Ini sudah pasti dan tak ada yang menyangsikan.

Lebih dari itu, tujuan adanya i’jaz adalah untuk menunjukkan bahwa kitab Al Qur'an adalah benar bahwa Nabi Muhammad yang berada di tengah umat ini adalah rasul yang dapat dipercaya, dan bahwa wahyu yang turun adalah benar-benar dari Allah SWT.

Mukjizat berperan sebagai bukti yang Allah tunjukkan kepada hamba-hamba-Nya. Seakan-akan Allah berfirman: Apa yang disampaikan oleh Rasul-Ku adalah benar-benar dariKu, Aku mengutusnya agar ia menyampaikan wahyu-Ku.

Buktinya adalah Aku berikan padanya hal-hal luar biasa yang tidak bisa dilakukan oleh siapa pun di antara kalian.

Tahapan-tahapan dan Kadar Mukjizat

Al Qur'an digunakan Nabi untuk menantang orang-orang Arab, namun mereka tidak sanggup menghadapinya, padahal mereka sudah sedemikian tinggi tingkat fashahah dan balaghah-nya. Nabi Muhammad SAW telah meminta orang Arab menandingi Al Qur'an dalam beberapa tahapan:

Pertama-tama, beliau menantang agar membuat kitab seperti Al Qur'an secara keseluruhan, melalui firman-Nya:

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun Sebagian mereka menjadi pembantu bagi Sebagian yang lain”.

Nabi menantang mereka agar membuat yang seperti Al Qur'an sepuluh surat saja, melalui firman Allah SWT yang berbunyi:

Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur'an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu, maka ketahuilah sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?”

Nabi menantang orang Arab agar membuat yang seperti Alquran satu surat saja, melalui firman-Nya:

Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah jika kamu orang yang benar.”

Tantangan ini diulangi lagi dalam firman-Nya:

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an​​​​​​​ yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an​​​​​​​ itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar. Tantangan agar membuat yang semisal Al Qur'an​​​​​​​ walaupun sedikit

Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar. Ketidakmampuan orang Arab untuk menandingi Al Qur'an padahal mereka memiliki potensi bersyair yang luar biasa merupakan bukti tersendiri bagi kelemahan bahasa Arab di masa bahasa ini berada pada puncak kejayaannya. (Drs. KH. Ali Muaffa, M. Ag. | Khodimul Ma'had)


Kampanye Terkait

Sedekah untuk Guru Ngaji Indonesia

Ayo Empati Pada Guru Ngaji Ditengah Pandemi Covid-19

Rp 13,074,669 / Rp 50,000,000
69 hr tersisa

26%

Donasi